Ragam  

Asap Itu Keluar Dari Sunyi

Cerita Pendek

Oleh : Arief

Aku tidak pernah mengenal rokok di masa sekolah, Saat itu hidup terasa lurus dan sederhana bangun pagi, belajar, pulang, tidur. Rokok hanyalah benda yang kulihat di tangan orang lain sesuatu yang tidak pernah kupikirkan akan menjadi bagian dari hariku.

Semua berubah setelah aku lulus dan mulai kuliah, Aku tinggal di rumah dua lantai bersama oma dan opa. Rumah itu tua, tenang, dan penuh kenangan yang tidak semuanya kualami sendiri, Kamarku berada di lantai dua, tempat paling sunyi di rumah itu.

Setiap pagi, sebelum rumah benar-benar bangun aku menaiki beberapa anak tangga terakhir menuju rooftop, atau kadang ke ruangan belakang yang jarang dipakai.

Disanalah hariku dimulai, Sebatang rokok kuambil, kuhidupkan pelan. Udara pagi masih dingin, langit belum sepenuhnya terang, Asap rokok naik perlahan seolah enggan pergi, Dari atas rumah dunia terlihat lebih lambat.

Tidak ada tuntutan, tidak ada suara dosen, tidak ada pertanyaan tentang masa depan Hanya aku, pagi, dan sebatang rokok. Aku tidak merokok karena ingin terlihat dewasa, Aku melakukannya karena di momen itu, pikiranku berhenti berisik.

Rokok menjadi jeda sebelum kehidupan berjalan sebuah garis tipis antara tidur dan kenyataan, Kadang aku mendengar suara langkah oma di dapur, atau batuk kecil opa dari dalam kamar. Suara-suara itu mengingatkanku bahwa aku hidup di antara dua generasi, mereka yang telah melewati hidup, dan aku yang baru saja memulainya.

Di tengah rumah itu, aku mencoba memahami siapa diriku sebenarnya. Aku tahu merokok membawa konsekuensi, aku tahu tubuhku mungkin akan menagih suatu hari nanti, Tapi hidup pun tak pernah menawarkan pilihan tanpa risiko.

Aku menerimanya, sebagaimana aku menerima kenyataan bahwa tumbuh dewasa tidak selalu indah. Saat rokok itu habis aku mematikannya, Matahari mulai naik, rumah mulai hidup. Aku turun dari lantai dua bersiap menghadapi hari kuliah, tugas, dan dunia yang menunggu.

Karena bagiku, sebatang rokok sebelum memulai kehidupan bukan sekadar kebiasaan ia adalah ritual kecil untuk mengumpulkan keberanian, sebelum akhirnya melangkah keluar dari sunyi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *