Oleh : Imran Hi. Alim
Dalam sejarah perubahan sosial, pemuda tidak pernah lahir sebagai penonton. Mereka adalah aktor, pengganggu kemapanan, sekaligus penantang kekuasaan yang lalai terhadap kepentingan publik. Namun di Halmahera Selatan, posisi historis itu kini patut dipertanyakan. Apakah pemuda masih menjadi subjek perubahan, atau justru telah tereduksi menjadi ornamen demokrasi yang sibuk bertepuk tangan di ruang-ruang seremoni?
Musyawarah Daerah (MUSDA) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Halmahera Selatan sejatinya adalah momentum refleksi ideologis, bukan sekadar ritual organisasi. MUSDA harus dimaknai sebagai arena pertarungan gagasan, tempat diuji sejauh mana pemuda masih memiliki daya kritis terhadap arah pembangunan daerah. Tanpa kesadaran ini, MUSDA hanya akan melahirkan kepemimpinan administratif yang miskin visi dan gagasan transformatif.
Secara teoritik, pemuda selalu diposisikan sebagai agent of change, subjek historis yang mampu melampaui kepentingan pragmatis jangka pendek. Namun realitas di Halmahera Selatan menunjukkan adanya degradasi peran tersebut. Pemuda kian menjauh dari fungsi etisnya sebagai penjaga nurani publik. Alih-alih berdiri di atas kaki kebenaran, sebagian pemuda justru larut dalam relasi kuasa yang membuat kritik menjadi barang mahal dan keberanian moral kian langka.
Krisis paling serius yang dihadapi pemuda Halmahera Selatan hari ini adalah krisis orientasi kolektif. Tidak adanya penyatuan ide dan gagasan strategis membuat gerakan pemuda tercerai-berai dalam kepentingan sempit. Fragmentasi ini tidak hanya melemahkan daya tawar pemuda, tetapi juga menjadikan mereka gagal memainkan peran sebagai kekuatan penyeimbang dalam proses pembangunan daerah.
Lebih problematik lagi, perbedaan sikap politik telah direduksi menjadi alat eksklusi sosial. Politik identitas dan loyalitas jangka pendek menciptakan sekat-sekat semu yang menghambat kolaborasi kritis. Perbedaan, yang seharusnya menjadi sumber dialektika dan pendewasaan demokrasi, justru berubah menjadi tembok bisu yang mematikan solidaritas pemuda dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.
Akibatnya, sikap apatis tumbuh subur. Pemuda terlihat nyaman berada dalam posisi aman, menghindari konflik dengan kekuasaan, dan memilih diam atas kebijakan publik yang tidak populis. Dalam perspektif etika politik, diam semacam ini bukanlah netralitas, melainkan bentuk pembiaran terhadap ketidakadilan struktural. Ketika pemuda memilih diam, sesungguhnya mereka sedang mengkhianati mandat sosialnya sendiri.
Ironi terbesar terlihat pada kecenderungan pemuda yang lebih mengagungkan aktivitas seremonial dibandingkan kerja-kerja advokasi substantif. Diskusi, dialog, dan forum ilmiah sering kali berakhir sebagai ritual intelektual tanpa dampak kebijakan. Gagasan tidak diolah menjadi rekomendasi strategis, apalagi tekanan politik yang sistematis. Inilah gejala klasik dari intelektualisme dangkal yang sibuk berbicara, tetapi enggan bertindak.
KNPI sebagai wadah berhimpunnya kekuatan pemuda semestinya tampil sebagai pusat produksi gagasan kritis, bukan sekadar mediator kepentingan elit. KNPI harus berani mengambil posisi berhadap-hadapan dengan kebijakan pemerintah daerah yang tidak berpihak pada rakyat. Tanpa keberanian politik ini, KNPI akan kehilangan relevansinya dan hanya menjadi simbol kosong dalam struktur kepemudaan daerah.
MUSDA KNPI Halmahera Selatan harus menjadi titik balik. Pemuda perlu membangun ulang tradisi berpikir kritis berbasis data, riset, dan analisis kebijakan. Kritik tidak boleh emosional, tetapi harus tajam dan argumentatif. Dengan demikian, pemuda tidak hanya berteriak di jalan atau berdiskusi di ruang tertutup, tetapi mampu mempengaruhi arah kebijakan publik secara nyata.
Pada akhirnya, sejarah tidak mencatat pemuda yang sibuk beradaptasi dengan kekuasaan, melainkan mereka yang berani menggugatnya demi kepentingan rakyat. Halmahera Selatan hari ini tidak kekurangan pemuda secara kuantitas, tetapi sedang mengalami kelangkaan. keberanian moral. MUSDA KNPI adalah ujian sejarah: apakah pemuda memilih tetap nyaman dalam seremonialisme, atau bangkit sebagai kekuatan intelektual yang mengganggu, kritis, dan berpihak pada kebenaran.









